Ejakulasi Dini Ditinjau dari Keluhan dan Tingkatannya


Aktivitas seksual biasanya diakhiri atau ditutup dengan orgasme yang biasanya disertai dengan ejakulasi. Ejakulasi sendiri adalah pemancaran ke luar air mani dari organ reproduksi pria. Masalahnya, banyak orang yang tidak bisa mengontrol pelepasan itu sehingga terjadi begitu cepat. Itulah kondisi yang selama ini kita kenal dengan ejakulasi dini.

Sekitar 1 dari 3 pria berusia 18 sampai 59 tahun mengalami kondisi ini. Ejakulasi dini juga masuk ke dalam disfungsi seksual di mana seseorang tidak mampu untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang dapat memuaskan aktivitas seksual.

Hal ini bisa menjadi masalah jika pria memiliki sifat acuh-tak-acuh tanpa memikirkan perasaan atau sisi psikologis pasangan. Meski pada kenyataannya, tak sedikit pula wanita yang pasangannya mengalami ejakulasi dini tak mempermasalahkan itu.

Namun, yang pasti, ejakulasi dini membuat aktivitas seksual menjadi kurang mengasyikkan jika mematok durasi sebagai tingkat pengukur kepuasan.

Nah untuk itu, mari ketahui serba-serbi ejakulasi dini ditinjau dari keluhan dan tingkatan keparahannya.

  • Keluhan dan Jenis Ejakulasi Dini

Di kalangan medis, kondisi ini menjadi banyak perdebatan. Pasalnya, ejakulasi dini dimaknai berbeda oleh tiap-tiap orang atau pasangan. Ada yang menganggapnya sebagai gangguan atau masalah, tetapi tak sedikit pula yang tak menghiraukan kondisi ini.

Bagi kelompok yang kedua, barangkali, durasi tak begitu penting. Mungkin mereka memiliki hal-hal yang jauh lebih “berharga” di dalam aktvitas seksual mereka.

Namun, dunia medis sepakat bahwa ejakulasi dini dapat dibedakan menjadi dua jenis. Pembedaan ini didasari atas keluhan atau bisa tidaknya situasi ini diatasi oleh penderitanya. Di antaranya:

  • Lifelong premature ejaculation: yang artinya ejakulasi seumur hidup, ejakulasi dini yang selalu dialami pria sejak masa pubertas hingga dewasa. Ejakulasi dini seumur hidup biasanya berkaitan dengan kondisi medis tertentu.
  • Acquired premature ejaculation: adalah ejakuasi dini pada pria yang sebelumnya bisa mengontrol ejakulasinya dan kemudian mengalami ejakulasi dini karena masalah tertentu. Ejakulasi dini jenis ini biasanya tidak berkaitan dengan kondisi medis, namun cenderung lebih disebabkan oleh obat psikotropika dan narkoba.
  • Tingkat Keparahan

Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya, sebagian besar kalangan menyepakati bahwa ukuran ejakulasi dini adalah durasi atau waktu terjadinya klimaks saat bercinta. Ada tiga tingkat keparahan ejakulasi dini sejauh ini, antara lain:

  • Ejakulasi dini tingkat ringan: Pada tingkat keparahan ini, ejakulasi akan segera terjadi setelah hubungan seksual berlangsung, tepatnya setelah beberapa kali penetrasi singkat.
  • Ejakulasi dini tingkat sedang: Ketika seorang pria mengalami ejakulasi dini tingkat sedang, ejakulasi akan segera terjadi sesaat setelah penis terpenetrasi ke dalam vagina.
  • Ejakulasi dini tingkat berat: Ejakulasi dini yang digolongkan berat terjadi bila ejakulasi segera terjadi saat Mr. P baru saja menyentuh organ seksual wanita dari luar.

Ada pula seorang dokter yang menentukan kadar ejakulasi dini dengan satuan gerakan, dalam hal ini dorongan penis ke dalam vagina. Dia adalah dr. Naek Lumban Tobing. Dokter kenamaan di bidang seksologi dan kesehatan jiwa ini mengatakan bahwa ambang normal seorang pria untuk tidak dikatakan ejakulasi dini adalah 20 kali dorongan penis ke vagina.

Pasalnya, masih menurut dokter yang memiliki gelar SpKJ ini, Sebagian besar wanita Indonesia mampu mencapai orgasme, bila bercumbunya cukup, lalu berhubungan seksual sampai 20 dorong.

Dari sana dia menjadikan tolok ukur bahwa lelaki yang mendapatkan klimaks di bawah 20 kali dorongan, maka dia terkena ejakulasi dini, begitu pun sebaliknya.

***

Kendati demikian, sebenarnya tidak ada patokan batas waktu khusus yang harus dilalui pria untuk mencapai “garis akhir” setelah bercinta. Setiap pria memiliki waktu orgasme yang bervariasi, tergantung situasi dan kondisinya saat itu.

Persepsi ejakulasi dini pada setiap individu berbeda. Definisi yang berarti luas ini menghilangkan asumsi bahwa ejakulasi dini harus ditentukan dengan waktu tertentu. Misalnya, pria mencapai klimaks dan ejakulasi setelah 5 menit dan wanita orgasme juga dalam waktu lima menit, selama kedua pasangan puas, maka pria tidak dikatakan ejakulasi dini. Disisi lain, Meskipun pria bisa menahan ejakulasinya hingga 20 menit, namun pasangannya baru bisa orgasme setelah 35 menit, maka pria tersebut dapat dikatakan mengalami ejakulasi dini.

Oleh karenanya, waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh pria untuk ejakulasi normalnya akan memakan waktu sekitar 4-5 menit, ungkap Andrew C. Kramer, MD., seorang ahli urologi dari University of Maryland School of Medicine di Amerika Serikat. Akan tetapi, sebagian besar pakar kesehatan mengartikan waktu ejakulasi dini biasanya hanya dalam hitungan 30-60 detik atau kurang dari dua menit setelah penetrasi.

Sampai saat ini, pendapat tentang ejakulasi tersebut masih menjadi kontroversi, banyak juga ahli yang menentang definisi ejakulasi dini seperti itu. Namun yang jelas, ejakulasi dapat dikatakan “dini” jika rata-rata keluar kurang dari lima menit.

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *