Emboli Air Ketuban, Inilah Penyebab dan Faktor Risikonya!


Setiap Ibu tentu mengharapkan kehamilannya selalu dalam kondisi sehat, agar janin yang dikandung pun juga sehat. Namun, ada suatu kondisi yang dapat menyebabkan komplikasi seperti perdarahan hebat, salah satunya adalah emboli air ketuban. Kondisi ini bahkan bisa mengancam nyawa Ibu dan janin.

Emboli air ketuban merupakan pecahnya selaput ketuban pada ibu hamil, sehingga cairan ketuban, sel janin, rambut, dan partikel lainnya masuk ke dalam sirkulasi darah ibu. Kondisi ini sering dikenal juga sebagai ketuban pecah dini. Pecahnya selaput ketuban sering terjadi pada masa persalinan atau setelah melahirkan. Suatu kasus pernah melaporkan emboli air ketuban terjadi dalam waktu 48 jam setelah melahirkan.

Apa penyebab Ibu hamil mengalami emboli air ketuban?

Dilansir dari National Organization for Rare Disoders, disebut sebagai emboli air ketuban, karena awalnya para peneliti menganggap cairan ketuban memiliki efek emboli. Efek emboli air ketuban merupakan kemampuan cairan ketuban membentuk gumpalan (emboli) di pembuluh darah ibu, terutama di pembuluh darah paru-paru. Namun teori ini sangat lemah, karena cairan ketuban yang masuk ke darah ibu itu jumlahnya terlalu sedikit untuk bisa membentuk emboli atau gumpalan.

Sekarang, para ahli meyakini bahwa emboli air ketuban terjadi karena adanya kelainan pada sistem kekebalan ibu yang menganggap cairan ketuban sebagai zat asing. Respon imun ini menyebabkan reaksi peradangan (inflamasi) yang parah, sehingga merusak jaringan tubuh ibu. Dari penjelasan ini, penyebabnya lebih pada syok anafilaksis daripada proses emboli. Walaupun begitu, alasan air ketuban bisa menyebabkan reaksi alergi pada beberapa wanita masih belum bisa dipahami sepenuhnya.

Berikut kondisi bumil yang berisiko tinggi mengalami emboli air ketuban.

Meskipun penyebab kasus ini belum diketahui secara spesifik, tetapi ada beberapa faktor risiko yang diduga oleh para peneliti menjadi pemicu emboli air ketuban pada ibu hamil. Beberapa faktor risiko tersebut adalah:

  1. Usia.

Usia sering dikaitkan dengan kejadian ini. Ibu yang hamil di usia 35 tahun ke atas lebih berisiko mengalami emboli air ketuban.

  • Gangguan pada plasenta.

Plasenta merupakan jaringan penghubung antara ibu dengan janin yang tumbuh selama masa kehamilan. Jaringan plasenta berperan untuk menyalurkan oksigen dan zat gizi dari ibu untuk janin. Kelainan pada plasenta, seperti plasenta mengelupas dari dinding rahim sebelum melahirkan (sosio plasenta) atau plasenta menutupi sebagian atau seluruh bagian rahim (plasenta previa). Adanya gangguan ini dapat meningkatkan risiko terjadinya emboli air ketuban pada ibu hamil.

  • Preeklampsia.

Preeklampsia merupakan tekanan darah tinggi yang terjadi selama masa kehamilan. Kondisi ini diikuti juga dengan gejala edema dan proteinuria, yaitu tingginya protein dalam urin. Preeklampsia biasanya terjadi setelah memasuki usia kehamilan 20 minggu dan diduga menjadi faktor risiko pada beberapa kasus emboli air ketuban.

  • Polihidramnion.

Polihidramnion adalah kondisi berlebihnya cairan ketuban di sekitar bayi selama kehamilan. Meskipun kondisi ini jarang dianggap serius, tetapi beberapa peneliti ada yang menganggap polihidramnion dapat meningkatkan risiko emboli air ketuban.

  • Persalinan dengan cara operasi.

Memang, tidak ada yang salah dengan persalinan melalui operasi, seperti caesar, forsep atau esktraksi vakum. Namun, para peneliti menganggap prosedur operasi dapat meningkatkan risiko emboli air ketuban, karena menghambat secara fisik antara Ibu dan janin saat melahirkan.

Meskipun banyak faktor risiko yang diduga oleh para peneliti, tetapi tidak ada faktor risiko yang terbukti secara ilmiah bisa meningkatkan risiko wanita mengalami gangguan ini. Hal ini karena sebagian besar penelitian tidak menunjukkan hasil yang konsisten terkait faktor risiko. Seringkali, kasus emboli air ketuban tidak dapat diprediksi atau dicegah, meskipun Anda telah berkonsultasi dengan dokter secara rutin. Oleh sebab itu, yang bisa Anda lakukan adalah selalu menerapkan pola makan dan gaya hidup sehat agar kehamilan Anda terjaga dengan baik.

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *