Inilah Dampak Broken Home Terhadap Perkembangan Psikologis Anak


Tidak dapat dimungkiri bahwa semakin hari semakin banyak keluarga yang mengajukan perceraian akibat tidak dapat mempertahankan kehidupan rumah tangganya. Hal ini dapat dipicu oleh faktor internal maupun masalah eksternal antara suami-istri. Memburuknya komunikasi di antara suami istri ini seringkali menjadi pemicu utama dalam keluarga broken home.

Masa remaja diasumsikan sebagai masa yang penuh dengan strom and stress. Peran orang tua pada masa tersebut amat dibutuhkan, tetapi ketika kondisi keluarganya broken home, bisa saja itu malah memperburuk keadaan psikologis mereka. Hal tesebut akan memancing hal-hal negatif yang dapat memicu perilaku menyimpang.

Dampak psikis yang dialami oleh remaja yang mengalami broken home bisa menjadikan mereka pendiam, pemalu, bahkan despresi berkepanjangan. Faktor lingkungan tempat remaja bergaul adalah sarana lain jika orang tua sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Jika anak broken home berada di lingkungan yang negatif maka tidak menutup kemungkinan anak akan tecebur dalam pergaulan yang salah.

Tidak sedikit orang yang berpikir bahwa anak broken home adalah anak yang akan membawa pengaruh buruk bagi lingkungan sekitarnya dan berpikir bahwa anak broken home seolah-olah tidak pernah di urus oleh orang tuanya, hancur, liar, tidak terkontrol, dan tidak terarah. Secara tidak langsung, pandangan atau stigma negatif yang ada di kalangan masyarakat itu membuat mereka semakin tidak percaya diri dan menutup diri, mereka seperti membatasi hubungan untuk berteman dengan orang lain, berprestasi, dan berkembang.

Apa Saja Dampak Broken Home Terhadap Anak?

Broken home telah menjadi permasalahan yang serius bagi tumbuh kembang anak. Pengaruh ketidakharmonisan kedua orang tuanya, meski belum sampai bercerai bisa memberikan dampak pada psikologis anak, seperti:

  • Anak mulai menderita kecemasan yang tinggi dan ketakutan.
  • Anak merasa jerjepit di tengah-tengah, karena harus memilih antara ibu atau ayah
  • Anak sering kali mempunyai rasa bersalah.
  • Kalau kedua orang tuanya sedang bertengkar, itu memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang tuanya.

Bagi anak keluarga sangatlah penting, bagi mereka keluarga merupakan tempat untuk berlindung dan memperoleh kasih sayang. Peran keluarga sangatlah penting untuk perkembangan anak pada masa-masa yang mendatang, baik secara psikologi maupun secara fisik.

Ketika perceraian, itu akan menjadi masa yang kritis buat anak, terutama menyangkut hubungan dengan orang tua yang tidak tinggal bersama. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam batin anak-anak. Pada masa ini anak broken home juga harus mulai beradaptasi dengan perubahan hidupnya yang baru.

Beberapa pengaruh broken home terhadap perkembangan anak yang wajib orang tua serta lingkungan sekitar perhatikan adalah:

  1. Perkembangan Emosi

Emosi adalah yang pertama kali berperan saat remaja memiliki siklus peralihan menuju dewasa. Karena emosi sejalan dengan apa–apa yang didapat remaja dan dianggapnya sebagai pengalaman subjektif yang berguna bagi dirinya. Adapun beberapa dampak atau pengaruh broken home terhadap perkembangan remaja ditinjau dari sisi emosi antara lain:

  • Membuat anak menjadi pemurung
  • Membuat anak haus perhatian dan menjadi agresif
  • Menimbulkan ketidak stabilan emosi
  • Cenderung tertutup dengan apa yang dialaminya
  • Cenderung Pesimis dengan hidupnya
  • Perkembangan Sosialisasi

Berikut ini beberapa pengaruh broken home terhadap remaja ditinjau dari sisi sosialisasi, antara lain:

  • Anak menjadi tidak percaya diri untuk bergaul
  • Sulit beradaptasi dengan lingkungan
  • Untuk remaja putri, ada kemungkinan apabila ia tidak memiliki ayah. Yang pertama adalah perilakunya bisa jadi teramat sangat minder, atau sebaliknya bisa benar-benar agresif kepada lawan jenis.
  • Perkembangan Kepribadian

Pengaruh berikutnya adalah pengaruh terhadap perkembangan kepribadian remaja. Remaja yang memilki keluarga tidak harmonis atau broken home cenderung memilki karakteristik:

  • Sering terlihat murung dan depresi
  • Sering berperilaku nakal
  • Cenderung aktif apabila sedang melakukan hubungan seksual. Hal ini terjadi karena alter egonya.
  • Sering terjerumus menggunakan obat-obat terlarang.
  • Pertumbuhan Akademik Menjadi Lambat

Sebagian anak broken home merasa stress dan tertekan akan keadaan keluarganya pasca orang tua bercerai. Sebab, anak broken home akan cendurung tidak bersemangat dan malas dengan masalah pendidikannya. Perubahan prilaku tersebut dapat mempengaruhi prestasi akademiknya sehingga proses pendidikannya akan terhambat. Hal ini dipicu oleh faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan rumah yang tidak nyaman dan masalah finansial.

Broken home yang banyak terjadi di kalangan masyarakat sangatlah merugikan faktor psikologi anak yang menjadi korban rusaknya rumah tangga orang tuanya. Dampak yang terjadi akibat broken home sangatlah berpengaruh terhadap tumbuh kembang si anak. Karena keluarga layaknya  tempat untuk berlindung, memperoleh kasih sayang, dan mendapat bimbingan agar hidup lebih baik ke depannya.

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *