Lansia Rentan Terkena Aneurisma Aorta


Aneurisma aorta adalah pembengkakan yang tidak normal pada dinding pembuluh darah utama atau bisa disebut aorta. Penyakit ini, dapat terjadi di lokasi mana saja pada aorta dan berbentuk tabung, maupun bulat. Dalam kenyataannya, kondisi ini bisa dikatakan jauh lebih serius daripada hipertensi atau aterosklerosis.

Berkenaan dengan itu, berdasarkan hasil riset dan temuan banyak kasus, penderita aneurisma aorta lebih banyak menyasar seseorang yang usianya lebih dari setengah abad. Secara spesifik, penyakit tersebut lebih rentan dialami oleh orang yang berumur 65-75 tahun.

Meski demikian, para ahli belum dapat menjelaskan secara mendetail mengapa usia menjadi faktor yang turut mempengaruhi aneurisma aorta. Hanya saja, yang dapat dikatakan sudah pasti adalah proses penuaan memang kerap kali memicu kesehatan yang berkaitan dengan pembuluh darah.

Hal tersebut disebabkan karena ketika semakin tua, itu menyebabkan arteri mulai menjadi kaku. Di sisi lain, juga bisa mengakibatkan terjadinya pengerasan pembuluh darah, yang bisa memicu beragam masalah pada pembuluh darah manusia.

Kendati demikian, penyebab aneurisma aorta bukan hanya sebatas usia, melainkan juga memiliki faktor-faktor lainnya yang diyakini bisa menjadi pemicu penyakit tersebut. Hal yang dimaksud adalah, seperti kelainan genetik.

Selain itu, faktor pemicu lainnya adalah memiliki hubungan darah atau keluarga yang menderita aneurisma aorta, memiliki sindrom marfan, berkulit putih, kebiasaan merokok atau mengalami infeksi aorta.

Jika di antara hal-hal tersebut masih dilakukan, seperti merokok, maka seiring bertambahnya usia dinding aorta menjadi lemah karena rokok, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi. Kondisi tersebut yang kemudian menimbulkan tonjolan yang dapat terjadi.

Dari kondisi itu, harus menjadi perhatian adalah apabila benjolan sudah semakin besar, maka malah bisa meningkatkan risiko untuk pecah. Kalau sudah begitu, biasanya bakal mengakibatkan pendarahan yang serius dan bila tidak segera ditangani bisa berakibat fatal.

Perlu diketahui, pada umumnya aneurisma aorta berkembang dari ukuran kecil, tetapi hal itu bisa menjadi serius jika tak mendapatkan penanganan dengan baik. Dalam mendiagnosis sendiri, biasanya dokter menemukan penyakit tersebut di saat seseorang menjalani pemeriksaan rutin.

Secara umum, aneurisma aorta bisa diketahui dari berbagai langkah, seperti CT Scan, rontgen dada, USG pada perut, dan lain sebagainya. Lantaran lebih banyak menyerang seseorang yang lanjut usia, maka sangat disarankan yang sudah berumur, minimal 60 tahun, agar rutin menjalani pemeriksaan medis.

Adapun gejalanya sendiri, biasanya pada tahap awal juga tidak memberikan tanda berarti. Meski demikian, jika sudah parah, biasanya menunjukkan berbagai gejala, seperti pusing, kulit terasa dingin dan lembab, sesak napas, kehilangan kesadaran, pingsan, bahkan merasakan nyeri secara mendadak yang rasanya sangat sakit pada bagian perut atau punggung.

Kendati cukup mengkhawatirkan, sebetulnya kita bisa mencegah penyakit aneurisma aorta dengan berbagai macam cara. Beberapa yang bisa dilakukan adalah dengan berhenti merokok, menghindari asap rokok, olahraga secukupnya dengan teratur, menjaga kadar kolesterol pada tubuh, menjaga tekanan darah tetap stabil dan mengurangi makanan yang mengandung banyak lemak, gulu, serta garam.

Dari penjelasan di atas, kita dapat ketahui bahwa aneurisma aorta lebih rentan menyerang seseorang yang sudah lanjut usia. Kendati demikian, bagi yang berusia muda bukan berarti terhindar dari risiko terkena penyakit tersebut.

Oleh sebab itu, daripada di kemudian hari kita terkena aneurisma aorta, lebih bagi sejak dini menjalani pola hidup sehat. Selain manfaatnya untuk kita sendiri, dengan rajin olahraga dan menjaga pola makan bisa memberikan dampak baik bagi kita, terutama yang masih berusia muda.

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *